[CERPEN] IKHLAS

  IKHLAS

Dua pasangan berbalut pakaian putih nan indah kini berdiri di sebuah panggung mewah dengan hiasan bunga mawar berwarna putih dan merah. Senyum merekah menghiasi bibir mereka berdua sembari menyambut tamu yang terus berdatangan.. Jika di tanya perihal rasa ikhlas mungkin adalah sebuah pasrah tanpa alasan. Merelakan dengan amat sangat tulus dengan senyuman. Jika bukan karena pertemuan saat itu mungkin aku tidak ada disini.

Ya, saat itu.

29 Mei 2022.

Di balik kaca jendela, aku memandang lamat rinai hujan yang perlahan semakin berjatuhan. Sementara kopi yang kupesan masih mengepulkan uap panas dengan harum khasnya yang menguar masuk ke indra penciumanku. Di luar sana, aku memperhatikan manusia yang berlalu lalang berlari menghindari hujan yang semakin deras. Sementara sebagiannya lagi membuka payung yang sedari tadi sudah mereka persiapkan. Mungkin mengerti bahasa langit yang sudah memberi aba-aba terlebih dahulu . Lucu memang. Menghindari hujan yang hanya sebatas air namun mampu menghadapi kerasnya realitas hidup. Aku tersenyum simpul. Manusia memang kuat.

“[Tunggu aku 15 menit lagi ya Ra. Aku kejebak macet].”

Satu pesan masuk ke ponselku. Ternyata Nina. Seseorang yang sedang aku tunggu kehadirannya. Teman SMA sekaligus teman kerjaku dulu di sebuah perusahaan media berita yang sudah tiga tahun lebih lamanya kita tidak pernah lagi bertemu kembali. Jika bukan karena kita menghadiri satu acara yang sama di Kalimantan minggu lalu, mungkin entah kapan kita bisa bertemu. Bisa dibilang ini adalah hari reuniku bersamanya dan … mungkin juga bersama hujan.

Aku menyeruput kopiku perlahan. Lalu memandang lamat arlojiku. Rupanya sudah lewat 15 menit dari janjinya tadi. Ah, mungkin saja jalanan macet yang dilaluinya begitu panjang. Atau mungkin sesuatu terjadi. Aku harap semua akan baik-baik saja. Ya, aku harap begitu.

Tanpa sadar seseorang memasuki pintu restaurant, lalu tiba-tiba melambaikan tangan ke arahku. Nina sudah datang rupanya. Namun, ada seseorang yang tak sempat kukenali rupanya. Seorang pria berbalut masker yang berjalan menghampiriku bersama Nina.

“Hallo Raraaaa, Akhirnya kita bisa meet lagi disini,” ujar Nina sembari memeluk hangat diriku.

“Alhamdulillah, aku juga senang kita bisa ketemu lagi dalam keadaan sehat,” ujarku menyambut pelukan hangatnya.

“Na, aku pergi ke toilet sebentar nggak papa kan?” ujar pria bermasker itu kepada Nina. Sementara Nina mengangguk sambil terseyum ke arahnya.

“It’s okay.”

Aku mengernyitkan dahi sembari menatap punggung dibalik kepergian pria yang di bawa Nina tadi. Meminta penjelasan lebih tentang siapa dia? Nina yang mengerti maksudku langsung tertawa kecil.

“Dia calon suamiku, minggu depan kita akan menikah Ra. Nanti kamu datang ya,”

Seketika aku menarik kedua sudut bibirku, lantaran ikut senang mendengar kabar tersebut.

“Seriously?” ujarku memastikan kembali.

“Iyaa Raraaa,” ujarnya sembari tersenyum malu yang membuatku juga ikut tertawa kecil melihatnya.

Betapa bahagianya aku. Teman SMA ku dengan kisah cintanya yang dahulu sempat rumit,  kini sudah mendapatkan tempat bermuaranya. Tempat singgah yang katanya adalah rumah.

“Kalau boleh tahu siapa namanya Na.”

“Dimas Ra, namanya Dimas.”

Aku termenung sejenak.

Lalu tersadar oleh kehadiran calon suami Nina yang tak lagi memakai maskernya.

Lagi aku termenung. Menatapnya dengan lamat hanya untuk memastikan bahwa dia bukan orang yang aku kenal. Namun tetap saja, garis lekuk wajahnya masih tetap sama dengan seseorang yang dahulu pernah berkata.

“Tunggu aku dua tahun lagi Ra, nanti aku pulang.”

Aku tersenyum getir. Ternyata dia memang pulang. Hanya saja bukan singgah di rumah yang sama. Ternyata dia memang datang, namun di tempat muara yang berbeda. Sepertinya sakit adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan semua alasan dan rasa yang terjadi dalam diriku saat ini. Kata yang amat sangat tepat saat rasa kecewa tak mampu di ucapkan dengan seribu sumpah serapah yang kini tertahan. Rupanya aku seperti bagian dari manusia di balik kaca jendela tadi. Menghindari hujan yang hanya sebatas air namun mampu menghadapi pahitnya realita yang aku hadapi saat ini. Seperti harapanku tadi, aku harap semua baik-baik saja.

Aku menghela nafas. Lalu mempersiapkan senyum yang paling tulus dengan rasa ikhlas yang paling mendalam.

“Salam kenal mas. Aku Rara.”

“Dimas,” ujarnya menatapku sejenak lalu mengalihkan pandang ke arah jendela di sampingnya.

Aku tahu dengan mata itu. Mata yang penuh rasa bersalah. Mata yang enggan meminta maaf atau mungkin lari dari semua permasalahan yang ada.  Rupanya mata memang bagian tubuh yang paling jujur sampai tanpa sadar aku sedikit menitikan air mata.

“Oh iya Ra, aku hampir lupa. Ini aku bawain hadiah buat kamu,” ujar Nina sembari memberiku sebuah kotak bertuliskan Are Aich.

“ Kemarin aku sempat kepoin media sosialmu. Dari semua photomu aku lihat kamu selalu pakai hijab dari Are Aich. Makanya aku kasih ini sebagai hadiah dariku.”

Segera aku menghapus bulir air mata untuk menyembunyikan rasa sakitku agar tak terlihat oleh Nina. Lalu membuka kotak tersebut perlahan. Mengambil sebuah kertas persegi bertuliskan.

“Terkadang hidup tidak berjalan dengan semestinya. Harapan yang kita yakini adalah sebuah kepastian bisa jadi hanya menemui titik semu. Apapun yang terjadi tetaplah untuk selalu ikhlas dan tersenyum. Untukmu dari Are Aich.”

“Gimana Ra, suka kan hadiahnya?”

Aku menghela nafas, memejamkan mataku untuk merasakan ikhlas paling dalam yang dibalut senyum paling tulus. Meskipun semua amat sangat terasa berat.

“Semua hadiah yang kamu berikan hari ini … Aku sangat suka,” ujarku dengan suara tercekat.


TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursus Online Bahasa Inggris Gratis. Cuman Modal Internet.

Cara Mengerti Native Speaker Berbicara Meski Cepat