[CERPEN] Petrichor di Akhir Senja
Petrichor di Akhir Senja.
Diujung cahaya matahari yang
mulai temaram. Bias bayangan pepohonan jatuh diantara kedua kakiku. Dedauanannya
yang rindang , menari meliuk mengikuti irama angin di sore hari. Membut
bayangan dikakiku bergerak kesana kemari. Menghasilkan suara gesekan dahan yang
amat sangat merdu. Aku meridukannya. Merindukan saat – saat waktu yang telah
berlalu dengan cepat. Mengisi rindu yang tak pernah kembali meski memohon
dengan harapan pasti. Tak ada yang istimewa dari sekedar kita bertemu kembali.
Menanti hari bersama dengan bercengkrama hal yang tak di mengerti oleh dunia.
Hanya kita. Ya, hanya kita yang mengerti. Bahasa cinta dengan diksi dan majasnya
yang menciptakan semburat senyum di pipi. Alangkah indahnya jika penantian ini
segera berhenti.
Di hadapanku,
di tempat aku berdiri mematung dengan mengenggam setangkai mawar putih. Persis
dihadapan sebuah pohon yang menjadi cerita lalu kita. Duduk diatas tanah yang
sama dengan hamparan rumput hijau sebagai alas kita berdua. Menikmati suasana
sore yang hangat , sembari di terpa oleh
hembusan angin yang tak pernah berhenti ikut dalam romantisme cerita kita.
Katamu
aku cocok dengan mawar putih. Cantik dengan kepolosannya. Mawar yang menjadi simbol
dari awal cinta abadi. meski ku tak tahu apakah cinta kita memang benar abadi
adanya. Nyatanya , waktu memang amat sangat jahat diantara angin dan matahari
bukan ? bisakah waktu menjadi peran protagonis disini ? Membawamu kembali
kehadapanku dengan kisah yang lebih baik. Tak perlu melihat untuk selamanya. Setidaknya
, tanganmu tak pernah berhenti menggenggam tanganku. Suaramu tak pernah
berhenti bercerita kepadaku. Menceritakan segala hal yang ada di bumi , warna ,
juga bentuk dari indahnya seni yang di hadirkan Tuhan untuk terus dinikmati. Hingga
ruang imajinasiku di penuhi oleh harapan dan juga mimpi - mimpi.
Aku
ingat saat dirimu berujar , “ rumput itu berwarna hijau , dan senja berwarna
keemasan. ”
Aku tak mengerti saat itu. Hanya mengerutkan
dahi sebagai jawaban. Menerka - nerka segala hal yang kau ceritakan untuk
membantu rasa ingin tahuku. Nyatanya memang benar adanya. Saat ini , aku
melihatnya dengan amat sangat jelas. Di ujung barat sana , terlihat pantulan
cahaya matahari yang mulai menguning dengan deret warna keemasan. Sementara di
ujung timur sana , aku melihat awan kolombus yang mulai bergerak kemari. Awan
yang pernah kau ceritakan serupa kapas putih yang melayang - layang di angkasa.
Hanya saja , yang kulihat saat ini bukanlah berwarna putih seperti ujarmu
dahulu. Namun berwarna kelabu. Menurutku , itu warna yang indah. Seindah matamu
yang kupakai untuk melihat segala isi dunia yang pernah kau ceritakan padaku.
Seperti ujarmu , “ Kelak kamu akan melihat. ”
Sebuah
kalimat yang kukira adalah lelucon sebagai penghibur diri. Namun menjadi sebuah
bukti bahwa janjimu memang tidak pernah ingkar.
Katamu
pula ,” Kelak akan ada seseorang yang mengizinkan matanya untuk di tangisi
hanya karena perihal ditinggalkan. ”
Nyatanya memang benar demikian. Bulir - bulir
ini terus saja mengalir tanpa malu , membasahi pipiku dengan semburat senyum
getir. Menjadi bukti bahwa ujarmu memang tidak pernah berbohong. Entah siapa
yang menangis disini. Hatiku yang rapuh , atau matamu yang tertinggal demi
bersemayam pada tuan yang baru.
Boleh ku bercerita tentangmu. Juga tentang
mimpi-mimpi mu saat itu. Tentang sebuah doa yang kau panjatkan dalam hening.
Yang katamu , itu adalah panjatan doa tentang diriku pada Tuhan. Tentang
harapanmu untuk kita.Tentang curhatanmu padaNya. Mungkinkah ini adalah bentuk
pengabulanNya? Sepertinya aku yang tidak senang disini. Ditinggalkan dalam kehampaan
yang belum sempat ku lihat bagaimana rupamu. Karena yang kulihat saat ini ,
hanyalah sebuah gundukan tanah merah yang masih menggembur. Sementara senja kian
menyoroti dengan kontras pada sebuah papan putih yang bertuliskan namamu
disana. Dibalik itu , adalah sebuah raga yang tertidur damai dengan denyut yang
tak lagi ada. Sebuah raga yang kudambakan hadirnya kembali. Meski ku tahu, akan
ada masanya menjadi tulang belulang yang menjadi hiasan abadi pada tanah yang
sempat kau titipkan untuk menjadi tempat rehatmu selamanya.
“Hey,
bagaimana kabarmu?”
“
Bagaimana disana ,apakah sangat gelap ?”
“Apakah
sangat dingin?”
“ Apakah
kamu kesepian?”
Hening …
tak ada sahutan. Hanya irama suaraku yang di hempas oleh angin hingga menjadi
lalu.
Aku
menangkupkan wajah dengan kedua telapak tanganku. Rupanya , aku tidak bisa
membendung setiap bulir yang jatuh dimatamu ini. Jahat memang … Untuk apa
memberi jika pada akhirnya membuat tangis. Untuk apa datang jika pada akhirnya
di tinggalkan. Serupa hujan yang datang tanpa permisi dan pergi tanpa pamit.
“Ah ,
aku tahu. Mungkin kamu sudah bahagia disana bukan? Karena tidak ada lagi
leukemia yang kau keluhkan saat berbincang denganku.”
“ Tidak
ada lagi jadwal yang katamu sangat melelahkan untuk bertemu seorang dokter.”
“ Dan
tidak ada lagi rasa sakit yang kau lirihkan setiap kali kita bertemu,”
Rasanya
, suaraku amat sangat lirih dengan nada yang tercekat. Lantaran isak yang menjadi
teman pada sunyinya diriku.
Aku mulai menjulurkan telapak
tangan. Cahaya senja itu kini mulai menghilang. Berganti dengan tetes - tetes air
hujan dari awan kelabu tadi yang kini mulai berjatuhan. Sedikit demi sedikit
mulai membasahi tanahmu. Menciptakan wangi khas hujan yang membuatku selalu
candu untuk menikmatinya. Aku menghirupnya dalam. Lebih dalam seolah tak akan
ku rasakan kembali wangi ini. Lalu menikmati air yang mulai membasahi tubuhku ,
dengan rasa dingin yang menggigilkan. Kurasa , hujan ingin ikut berjatuhan
bersama bulir di pelupuk matamu.
Aku janji. Tak akan ada lagi kesepian disini.
baik aku atau kamu. Kita akan sama meski dengan cara yang berbeda. Sama - sama
mengakhiri luka meski dengan rasa sakit yang berbeda. Bolehkah aku duduk
sejenak. Memandangi papan namamu sambil menyentuhnya dengan lamat. Memanjatkan
doa pada Tuhan bahwa aku ingin mencintaimu sekali lagi saja. Untuk kali ini.
Ya, untuk saat ini … Aku mencintaimu.
Kutaruh mawar putih ini sebagai bukti bahwa
aku pernah mengunjungimu. Menghiasi papan namamu yang masih berwarna putih
bersih. Lalu mulai merobek nadiku dengan benda yang sedari tadi ku genggam.
Menciptakan warna merah yang mengalir jatuh bersama hujan. Menodai tanah dengan
bau amis yang menguar. Menggantikan wangi petrichor yang sejenak mulai
melemahkan diriku. Bisakah tuhan menyatukan kita pada dunia yang baru? Jika
tidak, setidaknya aku tak lagi mendamba sebuah harapan konyol. Setidaknya , tak
ada lagi kepingan – kepingan kenangan yang terus mengusik pikiranku dengan
ilusi palsu. Terimakasih teruntuk mata yang sudah kau titipkan padaku. Akan ku
bawa bersama denganku sebagai tanda bahwa kita selalu bersama. Meski hanya
sebuah indra yang kini tak akan lagi bisa ku gunakan. Setidaknya , ia tak lagi
rewel untuk memintaku menangisimu bukan?
Aku menatap papan namamu kembali dengan
sayu. Perlahan mulai melihat pantulan cahaya
senja yang mulai mengintip masuk melalui celah – celah dedaunan. Rupanya , hujan
sudah pergi tanpa pamit. Seperti diriku, dengan pandangan yang saat ini mulai
mengabur sembari mengulas senyum untuk terakhir kalinya. Lalu semua menjadi gelap.
TAMAT
Sukaaaa... Next cerpen lagi kak
BalasHapusTerimakasih ,,, Oke di tunggu ya kak
BalasHapus